23 Januari 2010

Catatan hari ini

Tadi sore di angkot..
Di hadapan saya, duduk seorang gadis kecil yang manis, duduk di samping bundanya. 'hm, cantik banget, mirip keponakanku' batin saya. Rambut ikal, usia sekitar 3 tahunan. Jadi ingat Nish, salah satu ponakanku yang menggemaskan.
Sang gadis kecil asyik minum air putih dari botol mineral. Glek.. Glek.. Ah.. Nikmat sekali.. Kemudian ia minum lagi.
Glek.. Glek.. Nyum..
Tiba-tiba,
'UDAH, DEK! Nanti kamu pipis di jalan, lagi!!'

Wahaha. Si bundanya gak sabaran, nih. Serem ah bunda. Kesian tuh si dede..

Kemudian,
'Biarin! Bodoh banget, kamu!'

Whew..
Si cantik imut bilang kata-kata kayak gitu ke bundanya. Ah. Mungkin kuping saya salah dengar.


Kemudian, si cantik minum lagi.

Glek.. Glek.. Hm.. Bibirnya mengercap air putih yang dingin itu.

'BUNDA BILANG, UDAH DEK, MINUMNYA!'


'Kurang ajar! Bodoh banget kamu!' dari mulut mungilnya kata-kata tersebut keluar dengan lancar.

Kali ini saya yakin telinga ini tidak salah mendengar.

'WHAT EVER!' Timpal sang bunda..

Bunda, anak kecil merupakan pencontoh yang paling ulung. Mungkin ia mencontoh yang salah. Lagi-lagi pikiranku melayang pada keponakan-keponakanku. Semoga lingkungan mereka 'aman' dari polusi kata-kata dan perbuatan kotor..

Sayangku yang imut, mulutnya dipake untuk ngomong bagus, ya.. lanjut..

01 Januari 2010

Promosi Blog

Sudah lama nggak ngeblog. Sebetulnya tidak lama juga,karena saya nge-post di blog lain saya. Blog apakah itu? Numpang sekalian promo yaa... Lain kali kalau ada waktu dan kepentingan untuk cari tau tentang diabetes, kunjungi aja web http://www.ssdiacare.com/. Yah wajar saja kalau blog catatan enny ini jarang di-update (hm.. alasan klasik: sok sibuk -_-").

Sebelumnya, saya nulis di medicastore.com, namun sekarang ini aktivitas saya adalah ngisi web http://www.ssdiacare.com/. Memang, menjadi salah satu staf di SS Diabetes Care, membuat saya -mau tidak mau- harus meng-upgrade diri. Yah, wajar saja, banyak hal yang harus dilakukan. Baik bagian front office maupun back office. Ngasi edukasi (meskipun masih sedikit2) ke diabetisi, kadang jadi resepsionis, bagian pembelian, dan yang paling penting ya peranan farmasinya. Salah satu peranan farmasi dalam managemen diabetes adalah jadi edukator, meskipun masih proses belajar lagi. Hue...h... Gak kebayang, kalo edukator gak bisa apa2. Huhuuhu, sedihnya..
Beberapa hari yang lalu, saya diberi buku yang berjudul "Getting Noticed on Google" oleh Prof. Whua.. Mengapa buku itu diberikan pada saya untuk dipelajari? Supaya web baru kami ter-index oleh google, si mesin pencari nomer satu (sebanyak 42,7% pengguna internet menggunakan google sebagai search engine). Belum khatam sih baca bukunya..
Di buku tersebut disebutkan bahwa google punya algoritma tersendiri dalam menilai apakah suatu web atau blog punya keterkaitan dengan apa yang diketik atau yang dicari. Di blog ini saya pasang widget feedjit. Dari feedjit, bisa terlihat arus keluar masuk blog ini. Datang dari mana, dan pergi lewat mana. Ada beberapa pengguna internet yang nyasar mampir di blog ini via google dengan mengetikkan beberapa kata kunci. Terkadang saya jadi bertanya-tanya sendiri: apakah para pengguna internet yang kesasar itu mendapatkan apa yang dicari di blog ini? Hmmmm.. Entahlah. Mudah-mudahan aja ya bermanfaat (meskipun banyak ketidakteraturan kata di sana sini ^^).
Hm.. hm.. pada intinya, saya yang masih belum mengerti tentang SEO dan optimasi segala macamnya itu ingin mempromosikan website bagus (hehehe) mengenai diabetes, dengan nara sumber terpercaya dan tim di belakangnya yang semangat :p.
Mau berkunjung? Ayo dengan rasa ingin tahu yang besar, klik link yang akan mengantarkan anda ke web SS Diabetes Care, New Horizons in the Management of Diabetes.
lanjut..

31 Desember 2009

Hari ini, sudahkah lebih baik?

Bukan karena mau pergantian tahun postingan ini ditulis, melainkan karena saya sedang ingin mengevaluasi. Huhuhu.. Hari ini, sudahkah lebih baik?
Terkadang, jika ditanya pertanyaan itu, diri diam tak berkutik. Dan memori pun berputar mengingat apa-apa yang telah dilakukan. Merasa diri tidak maksimal berbuat, mulut hanya bisa diam terkatup. Lantas, apa yang harus diperbuat supaya nurani tidak selalu merasa tertindih oleh laku? Mulai sekarang, hati, fikir, dan laku harus kompak supaya bisa menjawab pertanyaan yang menjadi judul posting ini. Hari ini, sudahkah lebih baik? Insya Allah.
lanjut..

02 November 2009

Kepada Sang Peri Malam

Malam ini bulan sungguh indah.
Tidak ragu menerangi gelapnya malam.
Dengan gagah memantulkan silaunya mentari.

Jika langit telah gelap dan bulan telah muncul, biasanya ia akan datang.
Yang bertugas di malam hari. Membawa sekantung pasir kantuk, untuk kemudian disebarkan ke penjuru negeri. Terbang dengan mengepakkan sepasang sayapnya yang kecil.

Duhai peri malam, di manakah dirimu?
Kurindu celotehmu.
Celoteh yang memberi warna duniaku.
Tidak lagi hitam dan putih.
Kau memberi warna merah, kuning, biru. Meskipun kontras dan tidak beratur, namun kumenikmatinya.
Duhai peri malam, di manakah dirimu?
Sang bulan telah menampakkan wajahnya.
Ku ingin melihat senyummu,
Kepak sayapmu yang kecil,
Lakumu yang gesit berputar-putar dengan kantung pasirmu yang penuh.
Duhai peri malam,
Sebelum langit gelap, angin berbisik pada sang rembulan.
Membisikkan pesan penuh sesal.
Atas kekurangpekaannya pada sang peri malam yang selalu mewarnai harinya.
Angin terlalu tidak peduli.
Ia lupa bertugas karena merasa tidak terlihat.
Kacau.
Siklus tidak berjalan. Angin menyesal akan perbuatannya.
Duhai peri malam, tampakkanlah wajahmu.
Bulan, bintang, angin, bahkan ikan di lautan rindu celotehmu.
Dan pasir kantukmu.
Di sini, angin bertekad tidak lagi mengabaikanmu, peri malam.
Dan purnama tertutup awan.
Angin berhembus perlahan.
Malam temaram. Kantuk mulai tak tertahan.
Selamat datang kembali, peri malam..
lanjut..

01 November 2009

Smile, and say alhamdulillah..

Positif feeling is the greatest power!

Wow.. sudah sering kali teman saya berdiskusi mengenai perasaan positif. Diskusiin buku quantum ikhlaslah, buku the secret, sampai diskusiin pelatihan tentang kekuatan pikiran. Subhanalloh, ya.. begitu dahsyatnya kekuatan perasaan, hati dan pikiran..

Saya jadi ingat kejadian beberapa tahun yang lalu. Ketika masih SMA, tepatnya sewaktu persiapan SPMB. Dulu selain di sekolah, saya juga ikut bimbel untuk membantu saya belajar. Di bimbel yang saya ikuti ada yang namanya pelajaran BIP, singkatannya apa, ya? Sejenis BP di sekolah, semacam pelajaran untuk memotivasi para peserta sekalian penyisipan nilai2 islam. Maklum, bimbelnya bernuansa islami.

Nah, si kakak BIP ini di awal pertemuannya bertanya pada kelas.

"Di sini, siapa yang yakin akan lulus SPMB?"

wuih..... siapa yang gak mo lulus SPMB, coba???

serta merta, dengan yakin dan sigapnya saya menunjuk tangan.

saya!

kemudian si kakak BIP tersenyum.

Berhubung saya duduk paling depan di kelas itu, saya menoleh ke belakang dan berharap yang lain juga melakukan hal yang sama. Semangat untuk menunjuk tangan tanda awal kelulusan SPMB.
ternyata?!

hanya satu orang di ruang kelas itu yang menunjuk tangan..

duuh.. jadi malu.. pede amat, deh nih anak

Huh! Biarin!!

Si kakak BIP cuma senyum, lagi! Gak bilang 'bagus' atau kata-kata lain yang menyemangati biar gak malu sendirian

Hehehe....

Makanya biar gak malu, saya belajar deh.. dan berdoa semoga lulus (ato lolos?) SPMB. Belajar giat gak ya?? hm.. belajar pas NF doang, dink.. hihihi..

Keinginan sudah dikunci. Harus masuk perguruan tinggi negeri!

Alhasil, ketika teman yang lain mencari alternatif PT swasta, saya tidak ikut.. Saya berkeyakinan bahwa akan diterima PTN. Aminn..Saya juga mengikuti saran kakak BIP untuk membaca surat al waqiah dan arrohman dengan berkeyakinan keinginan saya akan terwujud. Hm.. kemauan yang kuat.. Saya butuh kemauan yang kuat seperti itu sekarang.. hohoho..

Tapi.. tapi.. tapi..

Pas waktu ngisi formulir, saya dilanda kebingungan yang amat sangat.. Jurusan yang saya pilih semua memiliki peminat yang banyak dan favorit.. Saya jadi bingung menentukan mana yang benar-benar saya inginkan.. Huhu.. dasar enny..

Duuhh.. akhirnya dari sekian banyak pilihan fakultas dan jurusan, saya mencari aman. Saya memilih salah satu universitas negeri di Bandung pada pilihan pertama dan kedua. Pffhh....

Esoknya, formulir SPMB diserahkan kembali ke sekolah. Gamang. Perasaan gak menentu. Gak enak rasanya. Yap. Formulir sudah dipegang wali kelas. Insya Allah aman.

Pulang ke rumah..

Di rumah, saya mikir.. Ouh.. kalo nanti saya lulus SPMB, saya ke Bandung.. Jauuh.. nian.. Hiks.. Saya kan maunya naik bis kuning, huhuhu....

Pada ibu, saya langsung bilang, "Ma, tahun depan eni ikut SPMB lagi, ya.." dengan mata berlinang dan sedih.. Hiks.. Gak mau di Bandung, huhuhu..

Ahahaha.. dasar plin plan.. Tuh formulir SPMB udah dihapus berapa kali, tuh sebelum diserahkan ke wali kelas.. Terlambatkah untuk mengubah pilihan jurusan??

"Kenapa mesti tahun depan? Beli aja formulir yang baru" Gitu kata ibu saya.

"Lagian sih.. udah dibilangin.. pilihnya di Depok ajah! Orang mama doainnya yang di Depok, lah ini malah milih di Bandung!" Huhuhu.. orang sedih malah dimarahin.. tapi bener juga, ya! masih bisa beli formulir SPMB!! Hatiku merekah kembali.. Harapan itu masih ada!

Dengan ditemani ayah dan ibuku, kami pergi ke daerah salemba untuk beli formulir SPMB. Hari terakhir pembelian formulir ditutup, tuh.. Alhamdulillah, masih buka..

Saya cuma di-drop di Salemba, karena ayah saya gak mau nungguin ngantri beli formulir. Lama!! gitu alasannya.. Ya sudah, saya nurut aja.. usah untung dikasi modal beli formulir, n dianterin pula.

Setiba di komplek sekolah di Salemba (lupa.. komplek sekolah karena ada SD, SMP, sama SMA-nya).. Hm.. banyak orang ya?? Rame.. Persiapkan kaki.. Siap mengantri..

Ketika petugasnya sudah duduk di bangku, wuisssss.. orang langsung pada datang. Padahal belum dibuka tuh loketnya. Ada juga anak yang diantar ibunya. Hm.. enaknya dianterin.. Ada juga calo yang berkeliaran.. tapi si calo gak nawarin saya.. gak ada tampang bawa duit lebih kali ya? wkwkwkw... Hus!

Di tengah hiruk pikuk orang-orang yang siap berebut antrian dan formulir, saya hanya berdiri di belakang antria dan berfikir, "ah biarlah.. toh nanti juga sepi. Tunggu sepi aja, kasian tuh para ibu yang ambilin formulir SPMB anaknya."

Saya mundur.

Tiba-tiba

"Sini mbak bukti transfernya. Titip sama saya aj. Saya juga mau antri."

Shhhhhhh..... Serasa ada hembusan angin sejuk yang menerpa wajah saya. Hehehe. Seorang pemuda. Hm.. sepertinya bisa dipercaya.

"Ouh, makasih. Mau ambil formulir juga, ya?"

"Iya, mbak."

Saya serahkan bukti transferan saya ke orang tersebut. Pandangan saya tidak lepas mengawasinya. Hehe.. sayang, kali. Kesempatan cuma sekali. Kalo orang itu hilang dari pandangan, saya lupa mukanya, gak dapet formulir, gimana dunk?

Setelah beberapa lama, tiba-tiba.

"Ini, mbak formulirnya."

Wuih. Kaget, saya. "Iya, makasih ya."

Dia langsung ngeloyor. Belum sempet basa basi mau pilih jurusan apa dia. Hilang dari pandangan mata. Ah, semoga engkau mendapatkan yang terbaik, kawan. Terima kasih telah membantu.

Singkat cerita, saya memilih dengan jurusan yang saya inginkan. Bismillah.

Ketika hari H ujian, saya menggunakan kartu ujian yang saya beli sendiri di Salemba. Kartu ujian yang saya beli di sekolah ya gak dipake dunk. Gak mungkin membelah diri, kan?

Bismillah. Keinginan telah dikunci. Yakin, dengan pertolongan Allah: saya lolos!

Kertas ujian dibagikan. Deg degan. Tidak lupa senyum, supaya rasa cemas memudar.

Persiapan sudah matang. Percaya diri! Sip!

***

Berbekal pikiran positif, persiapan matang, dan tentunya doa, alhamdulillah keinginan yang terkunci itu tercapai. Sekarang, bagaimana mempertanggungjawabkannya. Ah, subhanalloh..

"Dan bila hamba-Ku bertanya padamu tentang Aku, maka jawablah bahwa Aku dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa bila ia memohon kepada-Ku"

lanjut..

19 Oktober 2009

Indahnya menyayangi

Whuaaaa... cerita2 dikit ah..

Jadi sekitar hampir 2 bulan terakhir ini, saya 'mencicipi' pengalaman baru. Tidak lagi kerja di balik meja dan ikut2 media edukasi di hotel-hotel berbintang, melainkan stand by hampir lebih dari 12 jam sehari di sebuah sarana kesehatan yang khusus menangani diabetes. Maklum saja, semua masih merintis dari nol dengan jumlah tenaga yang terbatas. Bahkan, apotik pun belum ada. Ya sudah, alhasil semua dikerjakan. Bag big bug! Dhuaar!! Mulai dari ngisi web ini, memesan kebutuhan perawatan kaki diabetes, inventaris barang-barang, memberi harga, jadi kasir, juga resepsionis. Ho ho ho.. Belajar dulu, baru nanti buka usaha sendiri.

Diabetisi yang datang kebanyakan diabetisi tipe dua yang tidak lagi muda. Perlu diketahui, diabetes itu terbagi menjadi beberapa tipe. Ada yang tipe 1 (diabetes yang tergantung insulin, umumnya disandang ketika seseorang masih muda, bahkan anak-anak), diabetes tipe 2 (diabetes yang tidak tergantung insulin, biasanya mendera orang yang tidak lagi muda yang pola hidupnya kurang sehat dan suka bersenang-senang.. hehe), diabetes tipe 3 (diabetes yang dikarenakan penyakit lain, maupun obat-obatan), dan diabetes tipe 4 (diabetes gestasional, wanita hamil yang ketika hamil kadar glukosa darahnya tinggi yang normal kembali ketika ia sudah melahirkan).
Nah, yang sering saya temui kebanyakan adalah diabetisi tipe 2. Diabetisi itu adalah orang yang menyandang diabetes. Ada oma, opa, om, tante, bapak-bapak berdasi, bapak berkaus oblong. Dari yang 'redup' sampai yang 'nge-blink'. Dari pulau Sumatra, Jawa, Bali sampai pulau Kalimantan. Bertemu dengan banyak orang, banyak yang bisa diamati dan diambil baik-baiknya dan dilupakan buruk-buruknya. Oouuww.. Saya harap bisa melupakan yang buruk-buruk itu! :D

Di tengah kehidupan yang keras ini (batu??), sungguh sangat mengharukan jika melihat seorang anak yang usianya baru belasan tahun dengan sabarnya menuntun orang tuanya yang usianya terpaut amat sangat jauh dengan sang anak. Wajar saja, karena menikah di usia yang tidak lagi muda dan ada lag time untuk mendapatkan momongan sehingga usia terpaut jauh dengan generasi selanjutnya. Jauh datang dari pulau seberang untuk mengantarkan orang tua mendapatkan pengobatan terbaik, mengantarkan saya bertemu dengannya.

Awalnya, saya fikir ia cucunya, ternyata saya salah. Ia anaknya.

Sang bapak bercerita pada saya, "ini anak saya, umur enam belas, adiknya umur empat belas."

"wah, anak bapak masih pada muda, ya," dengan sksd saya menimpali.

"saya kawin telat. empat puluh. lama punya anak."

"oohh.. tapi anak bapak sabar, ya.. Beruntung punya anak kayak gini," sembari tersenyum pada sang anak.

Hayaahh... saya nulis apaan sih ni??

Jadi yang bikin saya terharu itu, ketelatenan sang anak merawat ayahnya. Ibunya pun telah berumur. Sabar menyuapi ayahnya, menuntunnya berjalan, mengelap hidung sang ayah yang basah karena keluarnya cairan. Huaaaa.... Padahal ia baru SMA, tapi sudah sebegitu sabarnya. Pelajaran buat saya untuk berbakti sama orang tua. Hm.. mudah ditulis dan diucapkan, namun aplikasinya butuh kesabaran..

Banyak hikmah kehidupan yang dapat diambil dari para diabetisi yang saya temui. Bagaimana sabarnya sang suami menemani istri yang kakinya telah diamputasi; sang suami yang hanya mau dituntun sama istri tercintanya; serombongan keluarga yang datang menemani opanya kontrol; seorang ibu dan kakak yang menemani anak dan adiknya yang menangis ketika pertama kali harus menggunakan insulin.. Ternyata, banyak pelajaran hidup dari apa yang terlihat. So, indahnya jika seluruh keluarga saling menyayangi.. Bahkan orang lain di luar keluarga pun ikut bahagia melihatnya :D

lanjut..

26 September 2009

enny mencatat (kembali)

kubuka kembali catatan enny.
ternyata ia masih ada.
terlupakan sejenak oleh hiruk pikuknya dunia.
entahlah.
mungkin hanya alasan dibuat-buat.
namun, butuh upaya untuk mengambilnya dari tumpukan catatan lain yang menggunung.
lihatlah catatan ini..
kuhembuskan nafas kuat-kuat.
pfffuuuuhhh....
debu-debu yang menempel beterbangan.
hoo..
ternyata cukup lama kumeninggalkannya.
meskipun sekedar membersihkan..
***
nulis lagi.. grogi euuyy :p
hehehe...
mohon maaf lahir batin..
lanjut..

14 Agustus 2009

Obat Diabetes

Belajar diabetes ah..
nih copas dari family doctor

What is diabetes?

Diabetes occurs when a person's body doesn't make enough insulin or doesn't use insulin the right way. Insulin helps your cells convert blood sugar (also called glucose) into energy. Diabetes causes the sugar to build up in your blood.

Diabetes can generally be classified as type 1 or type 2. If you have type 1 diabetes, your body makes little or no insulin. If you have type 2 diabetes, your body makes some insulin but can't use it properly or doesn't make enough to control your blood sugar level. Most adults who have diabetes have type 2 diabetes.

How is diabetes treated?

The goal of diabetes treatment is to keep your blood sugar level as close to normal as possible--not too high (called hyperglycemia) or too low (called hypoglycemia).

The first step is to have a healthy diet and to exercise. This may mean you’ll need to change your diet and exercise habits. You’ll also have to watch your weight, or even lose weight, to keep your blood sugar level as normal as possible. Your doctor will talk to you about the kinds of food you should eat and how much exercise you’ll need every week.

Regularly checking your blood sugar is a key to helping you control it. Blood sugar checks can help you see how food, exercise and insulin or medicine affects your level. Checking your blood sugar also allows you and your doctor to change your treatment plan if needed.

Sometimes diet and exercise alone can’t keep your blood sugar at a normal level. Then your doctor will talk to you about other treatments, such as medicine or insulin.

What medicines are available to treat diabetes?

Several kinds of medicine can help you control your blood sugar level. Some medicines are pills that you take by mouth (orally). Oral medicine doesn’t work for everyone, though. Some people need to take insulin. If you need insulin, you’ll have to give yourself a shot (either with a syringe or with an insulin pen). Most people who have type 2 diabetes start with an oral medicine. Your doctor will tell you which kind of medicine you should take and why.

What medicines could my doctor prescribe?

Five kinds of diabetes medicine are available in pill form: sulfonylureas, biguanides, thiazolidinediones, glucosidase inhibitors and meglitinides. Each medicine has good points and bad points. Your doctor will decide which medicine is right for you.

Sulfonylureas
Sulfonylureas (some brand names: Amaryl, DiaBeta, Diabinese, Dymelor, Glucotrol, Glucotrol XL, Glynase, Micronase, Orinase, Tolinase) are the most commonly prescribed diabetes medicines. These medicines help your body make insulin. They are inexpensive and have few side effects. Side effects may include weight gain and low level of sodium in the blood. Sulfonylureas can be taken alone or with metformin (a glucosidase inhibitor), pioglitazone (a thiazolidinedione) or insulin. If you’re allergic to sulfa, you can’t take a sulfonylurea.

Biguanides
Metformin (brand name: Glucophage) may be prescribed for people who have diabetes and are overweight, because it may help with weight problems. Metformin helps the body use insulin better. Metformin can cause side effects such as nausea or diarrhea in some people. It can be taken with a sulfonylurea.

Thiazolidinediones
This class of medicines includes rosiglitazone (brand name: Avandia) and pioglitazone (brand name: Actos). An older medicine, troglitazone (brand name: Rezulin) is no longer available because of the risk of liver problems. Rosiglitazone and pioglitazone appear less likely to cause liver problems, but people taking them need periodic liver tests. Other side effects may include weight gain and fluid retention. These medicines help your body respond better to insulin. Rosiglitazone and pioglitazone can be used alone or in combination with other diabetes medicines.

Glucosidase inhibitors
Glucosidase inhibitors (brand names: Precose, Glyset) work in your stomach and bowels to slow down the absorption of sugar. This medicine can cause stomach pain, diarrhea and bloating, so it may not be a good choice if you have a history of stomach or bowel trouble. It can be taken alone or with a sulfonylurea.

Meglitinides
Repaglinide (brand name: Prandin) is taken with meals to control your blood sugar. Your doctor can tell you how to adjust the dose according to the number of meals you eat. Repaglinide can be taken alone or with metformin. Nateglinide (brand name: Starlix) is taken with meals to keep your blood sugar level from getting too high after you eat. Side effects may include weight gain. Nateglinide can also be taken alone or with metformin.

Your doctor may prescribe a combination of 2 or even 3 types of medicine to help control your blood sugar levels. Some combinations are available together in one pill. Some of these include a combination of a thiazolidinedione and a biguanide (Avandamet and ACTOplus Met) or a sulfonylurea and a biguanide (Glucovance and Metaglip).
lanjut..