Pages

04 November 2015

Our baby

Lahir normal, alhamdulillah.. 10/10/15, selisih 2 tahun 2 bulan dengan abangnya.. Semoga kami bisa mendidiknya jadi anak yang soleh.. Amin ya Rabb..

23 Maret 2014

Fatih 7 mo

Lagi belajar duduk 😚😚


14 Januari 2014

blogging started!

Mulai nulis lagiii..
Hihiii
Mudah2an gak banyak postingan random n gak jelas yeeee...
Ahuyy ahuyy.. 
Sekarang kerjaan pelayanan di bidang kesehatan lagi banyak-banyaknya nih. Salah satunya karena peralihan jaminan kesehatan jadi JKN-BPJS. Apa itu JKN-BPJS? Apa, ya? :D

22 Januari 2013

hello..

Hello.. Assalamualaikum.. nulis lagi :). xixi kangen sama baca2 blognya dianatika-corner. saya lagi seneng-senengnya searching resep, apalgi resep yang tingkat easy. biasanya hari sabtu ke pasar, trus masak deh :p. banyak blogger mommy yang gak sungkan ngasi resep oke punya. meskipun di saya belum tentu berhasil tuh resep. xixiix. ok c u

07 Oktober 2012

Maap lahir batin

Baca postingan yang gak seberapa di blog sendiri menyenangkan juga ya. Heheh, meskipun gak konsisten dan tema yang diangkat suka-suka hati tapi bikin semangat nulis muncul lagi. Mohon maaf lahir batin untuk semua yang pernah mampir di catatan-enny. Mudah2n gak kecewa dengan postingan yang hilang timbul. Gaya banget deh :d
Semoga amal ibadah kita semua diterima Allah SWT dan kesalahan serta dosa-dosa diampuni oleh-Nya yang maha Pemurah lagi Maha Pengampun. Senantiasa bersyukur dengan semua yang ada ;)

16 Desember 2011

BBPK Ciloto dalam Kenangan

Hehehehe.. Judulnya oke banget deh ;)

Bulan Oktober 2011, pekan kedua, saya berkesempatan ke Balai Besar Pelatihan Kesehatan (BBPK) Ciloto dan menginap selama 24 hari dalam rangka Pra Jabatan. Saya beserta rombongan se-instansi (14 orang ya kalo gak lupa) berangkat bareng, sewa bus. Saat itu, saya gak kenal semua, meskipun satu RS, kayaknya cuma kenal mb Linda aja deh. Heheheh. Maklum ngendon di depo terus, nih xp. Dan waktu penerimaan tahun 2010, tempat kami menerima 130 orang pegawai baru. Seminggu masa orientasi, langsung mengabdi di instalasi masing-masing. So, gak kenal semuanya.

Singkat kata, Sampailah kami di BBPK Ciloto. Lewat puncak pas sedikit. Ngelewatin RM Rindu Alam kalo dari Jakarta. Di Ciloto, selama 24 hari, kami menerima materi dan membuka pikiran supaya total bekerja di instansi masing-masing. Saya senang di sana. Widyaiswara -pemateri-nya sangat-sangat idealis menurut saya. Dan idealisme itu yang mereka pegang teguh dan mereka jadikan modal di sana. 

Pak Anang, yang wawasannya amat luasssss.. Kalo ditanya tentang politik n tokohnya, beliau tahu sampai silsilah anak cucu politisi :p. Pak Wansa yang sederhana, yang salut pada perantau-perantau muda, Pak Iman yang selalu bersemangat, Aa Gun yang gak kenal lelah, motivator handal yang murah senyum :), Pak Parman dengan pengalamannya yang luar biasa, Pak Yan, Pak Samsul, Pak Pepen, Ibu Yati, Bu Tresno, Bu Mutia, semuanya... Meskipun Kementrian tempat saya bekerja dinyatakan masih disclaimer di tahun 2010 oleh BPK, bila mengingat mereka -para Widyaiswara itu-, saya yakin kementrian kami di masa berikutnya nggak disclaimer lagi. Antara realisme dan idealisme memang ada gap. Namun bukan tidak mungkin gap itu diperkecil supaya tujuan bisa mulus tercapai. Para pendamping kami juga idealis, Pak Jendral asal NTB dengan logat sundanya (errrhhhh saya ingat2 dulu), Si akang Jabar yang pandai bernyanyi mars (errhhhh yang suka pake topi itu lho), dan semua staf di sana. Disiplin dan taat peraturan.

Selain itu, ada juga kejutan di sana. 
Berupa tembakan-tembakan di tengah malam! 

Dhuar!!!
Dhuar!!!

Krik.. krikk.. 

Pukul 02.00

Dhuar!!

Selain kami yang prajab, ada juga yang lagi pelatihan semi-militer di sana. Untuk yang lagi capek banget, tembakan-tembakan itu menambah lelap tidur. Sementara untuk sebagian lainnya, menjadi alarm bangun sholat malam, sambil ngebayangin rasanya hidup di tengah peperangan..

Di luar itu semua, di Ciloto itu banyak obyek-obyek indah. Dingin, pula! Tambah teman, tuker cerita, tuker gossip *lho? gak dink.. Ya teman-teman ya.. :D

15 Desember 2011

Obat-obat Mirip


Mirip? Obat kok bisa mirip? Emangnya orang??

Yah.. Obat khan buatan manusia.. :p
Berpuluh ribu macamnya, kalau ditambah nama dagang, mungkin beratus ribu kali, ya.. :D Kalau ditambah bentuk sediaan dan kekuatan dosis, bisa beranak lagi jumlahnya. Maka dari itu, banyak obat yang kembar dan mirip.

Obat-obat yang mirip ini, biasa disebut dengan LASA, singkatan dari look-alike sound-alike drugs. Ada juga yang mengistilahkan SALAD, sound-alike look-alike drugs. Versi Indonesianya adalah NORUM, nama obat rupa dan ucapan mirip, istilah ini ada di permenkes. Obat-obatan lasa nih bisa bikin liyer-liyer keblinger-confuse, dan bisa bahaya. Kenapa bahaya? Ini dikarenakan bentuknya yang mirip atau namanya yang mirip jika dituliskan atau diucapkan. Kalo mirip jika dituliskan (orthographic) -> interpretasi resep bisa keliru, kalo bunyinya mirip (phonetic) -> order obat via lisan -> keliru juga. Apalagi jika kemasannya mirip dan kembar. Dalam keadaan emergensi bisa gawat. Nah, jika mirip-mirip begini, bisa salah tafsir dan bisa salah obat. Fatal dan bahaya akibatnya.

Menurut Permenkes RI No. 1691/MENKES/PER/VIII/2011 Tentang Keselamatan Pasien Rumah Sakit, lasa masuk ke dalam obat-obatan yang perlu diwaspadai (high-alert medications), yaitu obat yang sering menyebabkan terjadi kesalahan/kesalahan serius (sentinel event), obat yang berisiko tinggi menyebabkan dampak yang tidak diinginkan (adverse outcome).

Beberapa faktor yang berkontribusi bikin binun:
● Tulisan tangan yang tidak jelas
● Nama obat tidak lengkap
● Produk baru, masih gress, gak banyak yang tau
● Kemasan atau label yang mirip
● Penggunaan klinis yang sama
● Kekuatan obat, dosis, dan frekuensi pemberian sama

Penggunaan huruf kapital bisa membantu untuk menghindari terjadinya kesalahan. 


Metode Tall man digunakan untuk membedakan huruf yang tampaknya sama dengan obat yang mirip. Dengan memberi huruf kapital, maka petugas akan lebih berhati-hati dengan obat yang lasa. Di US, beberapa studi menunjukkan penggunaan huruf kapital ini terbukti mengurangi error akibat nama obat yang look-alike.
contohnya: metFORmin dan metRONIdaZOL, ePINEFrin dan efeDRIN. Seminimal mungkin kesalahan sampai 0%.

Sebenarnya, rumah sakit punya kebijakan untuk menetapkan standar penggunaan metode tall man ini. Seperti gambar di samping, punya salah satu rumah sakit di negeri sebrang, yang memberlakukan standar penulisan untuk obat lasa. Hurufnya ditebalkan, dan diberi warna yang berbeda. Kemudian, komite keselamatan mediknya akan mereview setahun sekali dan memberikan feedback.

Strategi Komunikasi untuk mencegah terjadinya kesalahan karena lasa:

Permintaan Tertulis

  1. Tambahkan merk dagang dan nama generiknya pada resep, terutama untuk obat yang 'langganan' bermasalah.
  2. Tulis secara jelas, pake huruf tegak kapital.
  3. Hindari singkatan-singkatan, bikin bingung. Hanya yang menulis dan Tuhan yang tau :s
  4. Tambahkan bentuk sediaan juga di resep. Misalnya metronidazol 500 mg, sediaan tablet dan infusnya sama2 500 mg.
  5. Sertakan kekuatan obat.
  6. Sertakan petunjuk penggunaan.
  7. Tambahkan juga tujuan/indikasi pengobatan, biar makin jelas
  8. Gunakan resep preprinted, ato electronic prescribing, paperless, go green :D

Permintaan Lisan:

  1. Batasi permintaan verbal, hanya untuk obat tertentu, misalnya hanya dalam keadaan emergency.
  2. Hindari permintaan via telepon, kecuali benar-benar penting, ada form permintaan via telepon yang akan ditandatangani.
  3. Diperlukan teknik mengulangi permintaan, dibacakan lagi permintaannya, jadi ada kroscek.


Strategi buat tenaga kesehatan untuk mencegah eror karena lasa:

  1. Tidak menyimpan obat lasa secara alfabet. Letakkan di tempat terpisah, misalnya tempat obat fast moving.
  2. Resep harus menyertakan semua elemen yang diperlukan, misalnya nama obat, kekuatan dosis, bentuk sediaan, frekuensi, dll.
  3. Cocokkan indikasi resep dengan kondisi medis pasien sebelum dispensing ato administering.
  4. Membuat strategi pada obat tertentu yang penyebab errornya diketahui, misalnya pada obat yang kekuatannya beda-beda, atau pada obat yang kemasannya mirip-mirip.
  5. Laporkan eror yang aktual dan potensial (berpeluang terjadi error).
  6. Diskusikan penyebab terjadinya eror dan strategi ke depannya.
  7. Sewaktu penyerahan, tunjukkan obat sambil diberikan informasi, supaya pasien mengetahui wujud obatnya dan untuk mereview indikasinya.