Pages

22 April 2009

sisi lain hikmah berjilbab

Sesungguhnya apa yang diciptakan Allah dan apa yang diperintahkan-Nya tidaklah ada yang sia-sia. Begitupun perintah untuk menjulurkan pakaian (menutup aurat), dalam hal ini menjulurkan jibab sampai dada.
Pada suatu ketika, saya berkesempatan untuk menghadiri salah satu seminar tentang menyusu pada bayi. Pada seminar tersebut, didatangkanlah salah seorang figur publik yang masih memberikan ASI eksklusif untuk bayinya yang masih berusia tiga minggu. "Cantik (dan tinggi)", itu yang pertama kali terbersit ketika melihatnya. Hehehe.
Ketika melihat-lihat sekeliling, saya menangkap hal unik dari Ibu muda ini. Terlihat dirinya mengenakan kain, seperti celemek dengan warna yang kurang cocok dengan pakaiannya. Serta merta saya bertanya-tanya, mau apa, ya dia? Oh, ternyata, figur publik ini akan menyusui bayi mungilnya. Jadi, ia menutupi dadanya dengan kain mirip celemek, kemudian bayinya disusui di balik kain tersebut. Wah, subhanallah.. Terus terang saya terharu sekaligus berandai-andai ia mengenakan jilbab yang terulur sampai dada. Tak perlulah ia repot membawa-bawa kain penutup tersebut.
Tapi bagaimanapun juga, apa yang dilakukannya harus diapresiasi, sebab menjadi ibu sekaligus muslimah yang baik itu perlu usaha keras. :)
"Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutup auratmu dan pakaian indah untuk indah untuk perhiasan. Dan pakaian taqwa itulah yang paling baik. Yang demikian itu adalah sebagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah-mudahan mereka selalu ingat." qs Al a'raf: 26

16 April 2009

Maafkan Aku

Maafkan aku duhai Allah
Begitu banyak salah kuperbuat

Namun kau selalu menutupi kesalahanku

Maafkan aku duhai Allah

Kau beri aku begitu banyak nikmat
Namun aku belum banyak bersyukur
Maafkan aku
Aku memang tidak puitis
Aku memang bukan penyair
Namun aku terus berupaya
Menjadi hamba yang lebih baik

13 April 2009

Penyuluh Obat Bebas



Kemarin saya berkesempatan memberi penyuluhan tentang penggunaan obat bebas kepada ibu-ibu di salah satu arisan RT di kelurahan sebelah rumah. Sebenarnya undangan ini dadakan karena yang seharusnya ngasi pengarahan/ penyuluhan ini adalah apoteker lain. Berhubung beliau tidak bisa, jadilah saya yang dihubungi. Awalnya sempet ragu, bisa nggak ya saya? Ah, biar sajalah.. toh gak kenal ini sama ibu-ibu peserta arisannya.. hehe.. Rasa malu? Singkirkan saja dulu. 
Dibilang penyuluhan sih gak juga, karena sifatnya jadi lebih mirip kayak ibu2 pengajian; duduk lesehan dalam suasana informal dan perut kenyang karena sebelumnya makan dulu. Dari ibu-ibunya sendiri mungkin baru tau ada toh profesi yang namanya apoteker. Hihi.. sedih amat. Jadi anggapan mereka itu, apoteker itu yang jualan obat. Mungkin apoteker musti keluar dari zona nyaman (emang selama ini nyaman?) dan menggalakkan pelayanan yang bersifat patient oriented. Ah, gak mau banyak omong kalo soal ini sih. Diri sendiri aja belum nerapin.
Balik ke tema penyuluhan obat bebas. Di sana saya menjelaskan mengenai penggolongan obat berdasarkan keamanannya dan tandanya, yaitu obat bebas, bebas terbatas, dan obat keras. Obat bebas yaitu obat yang bisa dibeli di pasaran, baik itu di warung, toko obat maupun apotek tanpa menggunakan resep dokter. Selain itu, saya sedikit nyerempet menjelaskan tentang DOWA, daftar obat wajib apotek, yaitu obat keras yang boleh dibeli tanpa resep dokter asalkan diberikan oleh apoteker di apotek. Mengenai narkotika tidak saya jelaskan.
Obat bebas dan bebas terbatas umumnya dimaksudkan untuk menghilangkan gejala, sebelum memutuskan untuk pergi ke dokter. Penyakitnya antara lain pusing, demam, dan batuk pilek. Alhamdulillah, waktu setengah jam gak kerasa. Ibu-ibunya juga berkenan mendengarkan ocehan-ocehan saya tentang obat. Mereka juga tanya-tanya, biasalah dengan gaya ibu-ibu tentang pusing, alergi, sakit gigi, sampe penggunaan jamu yang langsung cespleng.
Meskipun pekerjaan saya sekarang tidak terlalu bersentuhan dengan obat-obatan secara langsung, Alhamdulillah info mengenai pertanyaan ibu-ibu tersebut pernah saya baca. Selain itu, waktu kuliah pernah ngerjain tugas tentang bahan kimia obat yang terkadang dicampurkan ke dalam jamu (tugas waktu PKL di Badan POM). Pengalaman PKL di apotek dosen juga memberikan tambahan pengetahuan dalam menjawab karena sebagai anak PKL, saya sangat dibebaskan untuk mengeksplor apa-apa aja yang dikerjain di apotek tersebut. Wuah.. senangnya.. ilmu makin diberi, makin nambah. Semoga bermanfaat untuk semua.

11 April 2009

Saksi Pencontrengan



Alhamdulillah, tanggal 9 April kemaren pemilu legislatif selesai dilakukan, meskipun pada saat ini tahapan perhitungan suara masih berlanjut. KPU sih janjinya perhitungan selese 12 hari. Mari kita lihat kinerja KPU (lagi).
Tanggal 9 kemaren, saya diamanahkan menjadi saksi oleh Partai Kita Semua. Bada subuh, udah siap-siap tapi berangkat dari rumah jam 6 kurang 3 menit (hehe..kebiasaan jalan mepet niy, tapi gak papa juga siy.. kan dianter naik motor). Kira-kira jam 6 lewat 5, sampailah saya di TPS 2 tempat saya ditugaskan. Namun, apa yang saya lihat?? TPS masih sepi! Gak ada satu pun petugas KPPS. Subhanallah, partai yang menugaskan saya ini memang sangat mempersiapkan dan mengantisipasi saksi-saksinya. Para saksi diminta hadir paling lambat jam 6 pagi (meskipun saya telat 5 menit menurut partai hehe).

Kira-kira menunggu sekitar 15-20 menit, barulah hadir si petugas2 KPPS itu dengan seragam hitam-putih, sama kayak saya. Saksi-saksi dari partai lain bermunculan sebelum acara dimulai. Tepat pukul tujuh, ketua KPPS TPS 2 di kelurahan saya membuka acara pencontrengan dengan membaca basmalah, kemudian pengambilan sumpah anggota KPPS yang disaksikan para warga sekitar dan saksi. Setelah itu, mulailah saya beraksi hehe.. Pembukaan kotak bersegel dimulai. Saya mendekat ke petugas KPPS sambil catat-mencatat, tanya-tanya, dan memberitahukan hak saya. Bahwa saksi berhak mendapat form c1, berita acara, dan DPT. Alhamdulillah, para petugas memang telah mengerti dan berjanji akan memberikannya. Yes!

Pemilu kali ini memang jauh berbeda, ya. Kotaknya lebih banyak, jumlah partai ditambah caleg yang banyak membuat jumlah surat suara lebih banyak. Hal ini mengakibatkan proses penghitungan surat suara sebelum dipakai jauh lebih lama. Kira-kira jam 8 lewat, proses pencotrengan baru benar-benar bisa dimulai. Terus terang, saya salut sama warga sekitar yang udah daftar trus menunggu sekitar 1 jam untuk memberikan hak suaranya. Kalo saya sih pasti udah gak sabar dan memilih untuk nunggu di rumah.

Pas mau dimulai, eh, ucluk-ucluk dateng saksi dari partai lain. Yee.. udah mulai, kaliiiii... jadi gondok sendiri. Yah, gak papa, deh. Masih tetangga juga. Yup mari dimulai.

Proses pencontrengan berjalan seperti biasa. Para pemilih yang mendapat undangan C4 menyerahkan undangan ke petugas KPPS bagian pendaftaran. Kalo gak dapet undangan, boleh menggunakan KTP dengan syarat namanya tercantum dalam Daftar Pemilih Tetap (DPT). Setelah itu, sabarlah mengantri untuk kemudian diberikan kertas suara sebanyak 3 buah. Surat suara untuk DPR RI, DPRD, dan DPD. Kemudian masuk ke bilik suara, contreng masing-masing satu saja, lipat kembali. Baru masukkan ke kotaknya. Celupkan jari di tinta dengan wadah berlogo KPU. Beres!!

Setelah memastikan semua aman, saya pergi ke TPS lain untuk memberikan suara. Maklum, tempat saya diundang mencontreng bukan di tempat saya bertugas sebagai saksi. Kira-kira 1 jam saya pergi untuk mengantri kemudian mencontreng.

Balik ke TPS 2 tempat tugas, suasana antri pemilu masih berlanjut, cuma bedanya ada kamera segala. Wah, ada juga wartawan yang mau ngeliput di sini, pikir saya. Eh, ternyata selang sekitar setengah jam, datanglah rombongan wartawan infotainment (terlihat dari seragamnya) mengerubungi seorang wanita.

Siapakah ia?

Hm.. hm..

Wanita tersebut rupanya artis yang masih tinggal deket rumah yang jadi caleg urutan pertama dari sebuah partai.

Euleh..euleh.. heboh amat..

Mau masuk TPS, diliput. Ngasi undangan nyontreng, diliput. Pas, duduk, diliput. Waktu namanya dipanggil, diliput juga. Pake diulang lagi manggilnya karena ada wartawan yang belum sempet ngeliput. Pas mau mencontreng, mesti senyum dulu, dan menunggu sang kameramen mendapatkan gambar yang bagus. Wah..wah.. untungnya gak semua orang berprofesi sebagai artis ato public figure, ya. Kalo nggak, bisa repot menugaskan beberapa orang kameramen dan reporter untuk dapet gambar dan berita yang bagus, hihihi. Salutlah buat si peliput yang udah dengan sabar menunggu dan mengikuti sang nara sumber berita. Segitu pentingnya kah aktivitas yg dia lakukan sampe segala sesuatunya harus diliput?? Hhh.. hey.. hey, kamu iri ya? hehe..

Balik bertugas menjadi saksi.

Sampe jam 12 teng, pendaftaran ditutup. Para panitia sampe mengumumkan dengan TOA kepada para warga yang belum mendaftar sebelum jam 12 untuk segera mendaftar. Dan pencontrenganpun masih terus berjalan kira-kira sampai jam 2-an.
Oh ada sedikit intermezo, nih. Partai kita semua menugaskan salah seorang ikhwan mengantarkan snack kira-kira jam 10 pagi, kemudian mengantarkan lagi makan siang, kemudian mengantarkan lagi makan malam. Zsssiiing.. mata seluruh saksi dari partai lain dan para petugas KPPS tertuju ke saya sambil memandang iri. Huehuehue..
"Wah, udah makan-makan aja, nih!"
"Wah, makmur, nih."
"Haha.. iya, doong paak.. PKS.. Mau, pak?"
"Iya. iya. makan deh neng"
"kita beli aja ntar di depan, dah."
Hehe.. senangnya... meskipun gak enak juga sama saksi lain yang tidak mendapatkan fasilitas snack, maksi, n makmal (makan malem). >>seneng amat, ya dikasi makanan aj juga. Katanya segala sesuatu harus disyukuri?? Oh iya, ya..
Cukup intermezonya ya.
Iya, cukup, kak.. 
Kira-kira jam 2-an lewat, mulailah dibuka itu kotak suara.Saking penuhnya, sampai boks cadangan juga dipake. Bahkan, ada surat suara yang sampe robek karena terlalu penuh. Namun robeknya surat suara karena kotak yang terlalu penuh tersebut tetap dianggap surat suara sah (asalkan nyontrengnya sah juga) karena permasalahan teknis. 
Yak.. perhitungan dimulai!!
31! 31! 31!
Krik.. krik.. banyak amat ya 31??!
8!!
SAH!!
uhuy..
8!
SAH!
31!
28!
23!
9!
Yak surat suara selanjutnya..
Waduh, nyontreng di mana yah ni orang?? petugas KPPS bingung sambil matanya menyusuri surat suara yang besar dan berwarna warni itu.
Pak, itu di nomer delapan!! di nomer delapan!! ada contrengan merah!!
Waduh, matanya jeli amat ngeliat nomer delapan!
Ya iya lah pak.. kite pan saksinye..
Break solat maghrib..
Dan saksi-saksi dari partai lain pun mulai bertumbangan meninggalkan arena. Tersisa empat orang saksi, dari nomer lima, delapan, sembilan, dan tiga satu. Alhamdulillah TPS tempat saya jaga, petugas KPPS-nya sudah cukup memahami aturan sehingga kesalahan perhitungan tidak terjadi. Selain itu, alhamdulillah juga gak ada keributan besar yang terjadi, meskipun sempat terjadi sedikit ribut antara saksi dua tiga, saksi delapan, maupun petugas KPPS. Semua bisa diatasi dengan kepala dingin.
Sampai dengan jam sembilan malam..
Energi terkuras! Mata diminta selalu awas! Dan satu persatu para saksi mundur. Tersisa du orang. Nomer delapan dan sembilan. 
Alhamdulillah, jam setengah sepuluh malam, form C1 telah di tangan, tugas telah ditunaikan. Para petugas KPPS pun terkapar lelah. Kami saling meminta maaf kalau-kalau ada perbuatan yang tidak mengenakkan hati satu sama lain. Bagaimana hasilnya?? Seperti diduga, partai kita ada di urutan kedua. Beda satu peringkat dengan nomer 31.
Bersyukur karena di TPS 2 ini hanya sampai jam 10-an malam. Bahkan, saudara yang lain ada yang sampai jam 2 malam, jam 3 malam, ada keributan, dan lainnya. Alhamdulillah.. Semoga kontribusi ini bisa bermanfaat.. Amin..

26 Maret 2009

Oleh-oleh PKPA di Semarang

Saya pernah tinggal di Ibukota Jawa Tengah ini, lo.. Yah meskipun cuma 1 bulan. Itupun terpaksa karena dapet tempat PKPA (Praktik Kerja Profesi Apoteker, PKL-nya anak profesi) di Semarang, di pabrik Hufagrip, Gratia Husada Farma di daerah Ngempon. Sebelumnya pernah ke Semarang sih, waktu studi ekskursi S1, tapi cuma beberapa hari, gak 1 bulan full.
***
Sebelumnya gak kepikiran kalo PKPA ke luar daerah itu ternyata mengasyikkan. Pas PKPA-kan ada tempat yang menampung, waktu untuk jalan-jalan (Sabtu-Minggu), ada pemandu jalan (sang pemilik kampung halaman) dan ada ongkosnya, hihi. Hmm seru banget..
***
Padahal beberapa bulan sebelumnya di dalam sekretariat apoteker di sebuah kampus farmasi di Depok..
"Hah?? Beneran, nih mbak saya kebagian PKL di Gratia Husada Farma?!"
"Iya, Enny dapet di Gratia, emang kenapa?"
"Yaah... mbak.. gak bisa dituker sama yg lain, ya? Gratia khan jauu..hh"
"Kamu cari aja yang mau tukeran sama kamu, trus, bilang ke sini ke situ ke sini..."
"hmmm repot... udah gitu, mana ada yang mau?"
"Udah, terima nasib aja.."
Kira-kira begitulah sepenggal percakapan saya dengan pengurus kesekretariatan program apoteker. Keluar dari sekret, badan langsung lemes, pfffhh.. hiks.. satu bulan di Semarang, tempat yang tidak dikenal sama sekali, orang-orang yang belum diketahui, budaya yang sama sekali berbeda, macem2 deh mikirnya..
***
Eng Ing Eng...
***
Ahad, 4 Mei 2008, diantar bapak, ibu, adek, sama ponakan, diberangkatkanlah saya ke gambir. Nyampe gambir.. sepi banget.. Ya iyalah!! Jam 7 pagi dah sampe gambir, padahal jadwal keberangkatan kereta ke Semarang jam 10 pagi! Wehehe.. Tumben2an banget si Enny gak telat. Bisa2 si papa gak mau nganterin kalo pake acara berlelet-lelet segala. Walhasil, sambil nungguin temen2 yang lain, kami sarapan sekalian muter2in Gambir sampe temen farmasi lainnya datang. Sekitar 2 jam menunggu (weks lamanya...), muncullah satu persatu teman-teman senasib PKL di Semarang.
Saya dengan 3 orang teman: Dewi, Martha, Heksa (berdasarkan urutan kedatangan ke Gambir) berangkat naik kereta dari stasiun. Pergilah kami semua ke Semarang, tepatnya ke daerah Ngempon, deket Ungaran.
***
Alhamdulillah, setelah menempuh perjalanan yang cukup panjang, sampailah kami di kota tujuan. Semarang.. here we are..
Sampai di Stasiun Tawang, kami disambut teman yang sedang PKL di Semarang juga, tapi beda tempat (Phapros). Jadi gak berasa di tempat orang kalo ketemu sama temen :). Berhubung hampir maghrib dan bapak kost yang menjemput kami sudah
stand by nunggu dari tadi, kami gak bisa berlama-lama bertegur sapa dengan Itin, Ririn dan Tita sang penyambut (mereka PKL di Phapros). Jarak antara tempat PKL kami cukup jauh.
Selain kami, ada juga 2 teman dari UGM yang PKL di tempat yang sama. Namun, mereka telah lebih dulu dari kami. Jatah PKL mereka 2 bulan di tempat yang sama, sedangkan kami 2 bulan di industri farmasi, bisa 1 tempat maupun 2 tempat (tergantung kebijakan kampus dan industri yang bersangkutan). Kami berkesempatan PKL 1 bulan.
Kami mendapat teman baru, anak UGM, Ika dan mb Marni. Kami satu kost dengan mb Marni, namun ika nge-kost di sebelah, tetanggaan.
Selama di Semarang, aktivitas yang kami lakukan seperti anak PKL lainnya. Bisa dibilang biasa dan berulang. Ini adalah jadwal tetap kami setiap hari kerja:

7.30 :
Selesai mandi + sarapan


7.30-7.50 :
Duduk di ruang tamu menunggu datangnya Ika


7.50-8.00 :
Pamit2, sampe pabrik

"Bu, Pamit ya.. Assalamualaikum"
(belum selesai ibunya jawab "iya waalaikumus salam, hati2 ya nduk"
eh, kita dah pada sampe pabrik, ya iyalah wong pabriknya persis di depan kost, gak nyampe 1 menit dah sampe :p)

8.00-12.00:
Menunggu makan siang

Pada waktu ini, bila pembimbing membiarkan kami apa adanya (aka dianggurin) biasanya kami isi dengan ngobrol2, main game dari hape, tukeran diktat dengan teman UGM, sampe ngeliat2 katalog tupperware, dan pada akhirnya beli tupperware baru

12.00-12.30:
Sholat zuhur


12.30-13.00:
Makan Siang


13.00-16.30:
Menunggu Pulang ke kos


Hm.. kira2 begitu deh jadwal kami kalo lagi hari kerja.

Berhubung mb Marni pulang ke rumahnya di Semarang, trus Ika juga pulang ke rumahnya di Solo, kami yang perjalanan pulang ke rumah butuh biaya dan waktu yang tidak sedikit, maka tiap
menjelang hari libur, kami selalu berdiskusi hangat dengan tema seputar "mau jalan2 ke mana, nih kita? :D"
***
Alhamdulillah, hampir sebulan di Semarang, kami udah menyambangi tempat-tempat indah berikut: Wonosobo, Dieng Plateau (makasi ya Heksa dan om-nya), Yogyakarta (tapi gak sempet ke Borobudur krn terbatasnya waktu, hiks), Candi Gedong Songo, Bandungan (beli mawar batik, sampe Jakarta gak berbunga), Mesjid Agung Semarang, Mesjid Agung Jawa Tengah, Pasar Pringapus (nemenin belanja si ibu Pram), Pantai di Semarang (namanya gak tau), Klenteng Sam Poo Kong, Candi Ngempon (deket kost), Simpang Lima (cuci mata), sampe ke Lawang Sewu.
Pyfuhh.. Pengalaman yang menyenangkan selama sebulan di Semarang. Jalan-jalan sambil PKL
.


Dieng


Ngempon


Sam Poo Kong

Hmm.. Kapan ya bisa jalan-jalan kayak gitu lagi??

21 Maret 2009

Pemimpin oh..

Mau jadi seorang pemimpin?
Hm.. Tipikal pertanyaan yang sulit dijawab. Apalagi sekarang ini lagi panas-panasnya dunia perpolitikan Indonesia menyiapkan pesta. Ya, 9 April nanti insya Allah qta akan berpesta demokrasi: Pemilu Legislatif 2009. Semoga pemimpin bijak yang amanah bisa membawa negeri qta lebih baik.
Barusan saya melihat berita di televisi mengenai bangku2 sekolah yang akan diambil paksa oleh para perajin. Pengambilan paksa itu diwarnai perlawanan dan isak tangis murid2 SD. Guru-guru juga berusaha keras supaya bangku2 tidak diambil para perajinnya. Bangku-bangku yang terbuat dari kayu jati itu sudah ada di sekolah-daerah Jawa Timur sejak lama, sekitar tahun 2006 lalu.
Lantas, kenapa para perajin itu mau merebut kembali bangku2 tersebut?
Rupa-rupanya sang perajin kayu tersebut belum mendapatkan haknya, alias BELUM DIBAYAR. padahal, dana pendidikan yang diperuntukan buat fasilitas sekolah itu sudah dikucurkan senilai 20-an milyar!
Pffhh.. Sekarang, siapa yang jadi korban? Anak2 SD, guru, perajin! Semuanya! -oh, pengecualian bagi pihak2 yang menyalahgunakan, tentunya-. Rencananya 3 hari ke depannya mereka (anak2 SD tsb) mau ujian.. Sedih sekaligus geram ngeliatnya.
Sebenarnya, banyak hal yang harus dipikirkan dan dicari jalan keluar oleh pemimpin Indonesia. Negeri seluas dan sebagus Indonesia ini berhak mendapatkan pemimpin yang amanah dan jujur. Masak kalah sama bangsa lain?! Memang jalan yang ditempuh masih sangat panjang dan berliku..
Sebelum itu, perlu diingat juga bahwa semua berawal dari diri sendiri.. Senantiasa memperbaiki diri dan menyeru kepada yang lain. Pemimpin amanah di negeri ini oh.. Semoga saja..
Bangkitlah negeriku, harapan itu masih ada!

15 Maret 2009

Penyebab Abai pada Amal Sunnah



Terkotori kemaksiatan

Berlebih-lebihan dalam hal yang mubah

Tidak sadar dengan nikmat Allah

Lalai akan kebutuhan diri dari amalan sunnah

Lemahnya pemahaman tentang hakikat pahala yang berlipat ganda

Melupakan kematian dan apa yang terjadi setelahnya

Mengira bahwa amal telah cukup

(merasa) terlalu banyak pekerjaan

Menunda perbuatan

Menyaksikan panutan dalam kondisi pengabaian
(al ikhwan.net)

no tittle

Duhai Allah,,
maafkan ciptaan-Mu yang lemah ini
ampuni kesalahannya
bukakan hatinya
berikan petunjuk-Mu padanya
agar ia senantiasa kokoh di jalan-Mu
.....