Pages

16 Juli 2009

Ina: memori tentangmu

Ini bukan tentang Aina si keponakan centil saya yang gak mau gemuk (anak sekarang peduli amat sama penampilan y.. padahal dia baru saja akan masuk esde!! ck..ck..). Bukan juga Ina mantan temen kos saya waktu kuliah (selain dian). Ini tentang Ina sahabat saya semasa SMA. Temen main semasa muda dulu . Tepatnya ketika kami masih kelas satu SMA.
Sebenarnya, di sekolah menengah pertama (SMP) kami satu sekolah. Saya pun baru melihatnya ketika kelas 3, tahun terakhir di SMP. Kami tidak saling akrab satu sama lain. Bahkan kenal pun tidak. Hanya tahu wajah. Terkadang saya tidak sengaja bertemu dengannya di mushola SMP kami. Letak mushola masih di pojok sekolah. Kecil namun syahdu. Ketika itu, SMP kami termasuk bangunan yang baru direnovasi. Fasilitas pun masih seadanya, tidak terkecuali mushola kami. Belum ada karpet di mushola, sementara sajadah terbatas. Alhasil, sholat beralaskan lantai yang dingin bukan jadi pemandangan langka. Suatu ketika, saat sholat beralaskan lantai, tiba-tiba ada yang menghamparkan sajadah ke tempat sujud saya. Ah, entah siapa. Selesai solat, saya lihat di samping saya, gadis hitam manis berambut lurus sedang khusyuk berdoa. Ya sudah, saya lipat saja mukena, kemudian kembali ke kelas melanjutkan aktivitas. Dialah Ina. Pertemuan kami hanya dilanjutkan dengan senyuman satu sama lain.
Rupa-rupanya, ketika SMA kami berkawan akrab. SMA yang letaknya tepat di samping SMP kami. Salah satu SMA keren di Jakarta Selatan. Di kelas satu kami sekelas. Kami pun sekelompok permainan. Hm.. sekelompok itu ada tujuh orang, saya sebutin yaa.. Ada Husna, si jebolan MTs yang berganti kostum. Huehue.. kebalik kita ya hus! Ada juga Eva, si ikal berambut panjang, ada juga Ellen orang batak berwajah sipit . Ada Putri si imut nan manis, ada juga Andra yang rumahnya jauuh, ada juga Enny si baik hati , dan terakhir si tokoh utama yang sedang diceritakan: Ina yang gak kalah baiknya sama Enny.
Entah bagaimana ceritanya kami bertujuh bisa jadi sekelompok main. Yang saya ingat, kami ini kalo kemana-mana sama-sama. Mulai dari ngerjain peer, tugas, break time, main-main, jalan-jalan.. Sampai-sampai, kami punya gelang berwarna hijau yang terbuat dari sejenis kaca yang dibelikan mamanya Husna sewaktu naik haji. Dengan pedenya kami menggunakan gelang itu di sekolah. Tapi sayang, gelang saya pecah, gak sengaja dijatohin sama abang ..
Ina yang saya kenal itu sangat lucu. Saya tidak menyangka.. Sebelumnya, ketika kami belum akrab, saya fikir dia itu sangat pendiam.. Ternyata?! Yang saya ingat juga dia itu suka sekali membaca novel. Sampai-sampai, ketika pelajaran seni rupa, sewaktu kami diminta menggambar apa saja di kanvas, ia menggambar cover depan dari novel yang pernah ia baca. Sebuah novel karya Danielle Steel. Cover depannya itu gambar rumah ala Jepang.. bagus deh gambarnya.. Novel yang judulnya putri dari timur ato silent honor.
Meskipun kami -saya lebih tepatnya- mengira telah cukup mengenal satu sama lain, ternyata saya baru mengenal luarnya saja. Saya tidak tahu, dan kurang cukup mengenal Ina, teman baik saya. Latar belakangnya, keadaan keluarga, kondisi badannya, dan apa-apa yang seharusnya diketahui temannya. Maafkan diriku, teman..
Ketika tiba libur sekolah, semua yang berstatus pelajar ber-euforia menyambut indahnya libur. Mulai dari anak TK, SD, SMP, SMA.. Tidak terkecuali kami. Apalagi ketika ada yang mengajak ke Dufan gratis. Makin asyik saja liburan itu.. Ya, kami pergi ke Dufan secara cuma-cuma. Bukan karena fasilitas kakak saya (dulu dia masih mahasiswa, belum kerja di Ancol), tapi karena fasilitas dari mamanya Husna yang seorang Kepala Sekolah TK. Kami nebeng gratisan bareng anak-anak TK dan orang tuanya. Tidak masalah.. Yang penting hepi dan gratis.. hueeeehe..
Setiba di Dufan, dengan sok gagah berani, kami langsung mencoba kora kora si perahu setan..
HUAAHHHH.. WWWAAAAAHH... Ayooooo.... Teriak sepuas-puasnya, sekenceng-kencengnya...
HUAAAAA............ HUUUAAAAAAAAAAAA....HHHH..
Selesai diayun-ayun dengan sangat ekstrimnya, kami tertawa-tawa.
"Wahahaha.... Lucu ya.. Wahahaha..."
Namun, Ina malah muntah-muntah.
"Hueekk... Huek..."
"Yaah.. ina, kok malah muntah??"
"Eh, naik lagi yuk.. ngantri lagi.."
"Yuk.. abis itu kita naik halilintar."
"Ina, ayooo.. masak segitu aja udah muntah-muntah?"
"Ah, ina.. ayo.. naik lagiii.."
Dasar anak SMA... Temennya muntah-muntah malah diajak naik kora-kora lagi. Dengan sabarnya Ina menolak ajakan kami. Mungkin ia merasa sangat mual, berdebar-debar, dan pusing. Ina memilih untuk menunggu kami berpetualang dengan si perahu setan dan halilintar di pinggir wahana. Sampai matahari kembali ke peraduannya, barulah kami pulang. Dijemput supirnya Putri, kami kembali ke rumah. Namun di perjalanan pulang, Ina masih pucat dan muntah-muntah.
"Huek.. huek.."
"Ina masuk angin amat, yak.." begitu pikir kami.
***
Waktu terus melaju sampai kami berada di kelas tiga SMA
***
Di siang hari bulan Desember yang cerah, ketika libur untuk persiapan ujian bersama. Saya asyik santai di rumah. Masak nasi goreng.. trus ngidupin tipi. Krrriuut... Perut keroncongan minta diisi. Nasi goreng lezat ala enny yang baru selesai dimasak, siap disantap. Tipi telah siap ditonton.
Tiba-tiba telepon berbunyi.
RRRing...
Siapa, sih siang-siang begini..
"Halo?"
"Assalamualaikum. Bisa bicara dengan enny?"
"Iya,waalaikum salam. Ini enny.. Siapa ini? Shofi, ya?", Saya hafal nada suara shofi, teman saya di Rohis sekaligus teman sebangku Ina di kelas tiga.
"Iya, ini Shofi.. Enny dah tau, belom?"
"Tau apa, Shof?"
"Pffhhh....", terdengar Shofi menghela nafas. Berat.
"Innalillahi wa innailaihi rojiun.."
Deg. Jantungku berdebar kencang.
"Kenapa, Shof?"
"Ina....", suara mulai bergetar.
"Ina kenapa, Shof? Ayahnya meninggal?", karena kutahu ibunya telah tiada. Ya Allah, Ina harus menanggung beban itu sendiri. Ia masih memiliki adik laki-laki. Tinggal di Jakarta sendiri. Pikiranku mulai bermacam-macam.
"Bukan..." Shofi mengatur nada bicaranya lagi. Alhamdulillah, hatiku mulai tenang.. Bukan ayah Ina yang meninggal..
Namun, Shofi melanjutkan perkataannya..
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun... Ina meninggal dunia, En.."
Deg!!
Saya berusaha menahan jatuhnya air mata saat mengetik ini..
"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun......" Air mata dan rasa kehilangan mendadak muncul. Nasi goreng sudah tidak menggiurkan. Perut tidak lagi lapar. Masya Allah.. Innalillahi wa inna ilaihi rojiun.. Saya segera membangunkan ibu saya yang sedang beristirahat siang, menelepon Husna teman kami..
Sedih sekali.. perasaan tidak menentu.. Ternyata Husna juga belum mengetahui berita meninggalnya Ina.. Ya Allah... Saya berharap Shofi hanya bercanda.. Saya segera pamit pada ibu untuk ke rumah Ina.
Di sepanjang perjalanan, di dalam angkot, air mata terus menitik.. Ya Allah.. Ina.. Saya mengenang pertemuan terakhir kami. Salaman setelah idul fitri di hari senin.. Ina.. maafkan aku, ya..
Sebelum ke tempat Ina, saya ke rumah Husna terlebih dulu. Kami menangis.. Kemudian mencoba untuk menerima semua ini. Takdir: rezeki, jodoh, dan kematian telah ditentukan Sang Sutradara. Di rumahnya, ternyata sudah banyak yang melayat.. Ina, banyak yang menyayangimu..
Ya Allah, Ampunkanlah ia, maafkanlah ia dan tempatkanlah ia di tempat yang mulia, lapangkan kuburnya, mandikan ia dengan air salju dan air es. Bersihkan ia dari segala kesalahan, sebagaimana Engkau membersihkan baju yang putih dari kotoran, berikanlah rumah yang lebih baik dari rumahnya (di dunia), berilah keluarga yang lebih baik daripada keluarganya (di dunia), istri (atau suami) yang lebih baik daripada istrinya (atau suaminya), dan masukkan ia ke Surga, jagalah ia dari siksa kubur dan Neraka.”
***
Ternyata Shofi tidak bercanda. Ina, sahabat kami, memang pergi meninggalkan dunia fana ini.. Beberapa hari menjelang ulang tahunnya yang ke-18.. Kemungkinan Ina mengalami penyakit jantung, penyakit yang gejalanya mirip dengan gejala masuk angin seperti kejadian di Dufan lalu. Ina, kau mengingatkanku bahwa kematian itu dekat.. Ya Allah, maafkanlah aku yang terkadang lupa.. Ina, maafkan aku yang terkadang lupa menyebut namamu dalam doaku.. Ya Allah, ampunilah aku..
***

6 komentar:

  1. eniiiiii
    gw malah ga tau wkt ina meninggal, tau2nya pas masuk sekolah.soalny gw blum pny telpon jaman2 sma.
    padahal gw kenal ina dr smp, sekelas wkt kelas 3, malah pas nyokapnya ina meninggal gw sekelas dtg ke rmhnya yg wkt itu msh di gandul.
    pdhl jg gw sering bgt minjem novel daniel steel sm kaset britney spears sm ina.pdhl ina bae bgt, lemah lembut, penyayang.
    gw inget terakhir gw becanda sm salaman sm ina pas abis lebaran.sempet ga nyangka sm sekali.
    tp semoga ina skrg damai di sisi alloh swt ya ni.
    i am not a goo dfriend for her.cos im not there when she's gone:((

    BalasHapus
  2. Semoga Ina mendapat tempat terbaik di sisi Allah swt. Kita tidak tahu seberapa dekat kematian. Jadi, Ingat di Yaumul Hisab nanti..the 2 prime question:
    1. Bagaimana sholat-mu?
    2. Bagaimana kau menghabiskan masa mudamu?
    Sudahkah kita siap menjawab 2 pertanyaan tersebut. hiks...hiks...ternyata gw masih takut mati.

    BalasHapus
  3. Iya, li.. sempet gak nyangka.. Ternyata pas ak dtg itu ud kesiangan..
    Yg ak inget lg, beberapa bulan setelahnya, ak gak sengaja ketemu bapaknya ina.. jadi satu2nya penumpang di angkotnya. ngeliat ak pke baju batik kyk punya anaknya, beliau membuka percakapan, "anak saya juga dulu sekolah di sma itu."
    trus ak timpali percakapan itu, kalo ak juga kenal anaknya.. temen anaknya juga.. bapak yg sabar, ya..
    sekarang apa kabar, ya bapaknya n adikny??
    iya, di.. amin.. hiks..hiks.. darimana hartamu, untuk apa dihabiskan.. siapa tuhanmu? hiks.. hiks.. semoga kita bisa menjawabnya.. perlu persiapan matang..

    BalasHapus
  4. Inna lillahi wa inna ilaihi rooji'un....
    klo ada temen qt meninggal rasanya emang nyesek banget... tgl 8 juli kemaren, pas pemilu temen ika jg ada yang meninggal. ika ga ta'ziah, tapi kt tmn yang kesana almarhumah meninggal sambil senyum...
    bisa ga ya qt meninggal husnul khotimah spt almarhumah? meninggalnya jam 2 dini hari, pas mau sholat tahajud...

    BalasHapus
  5. wah.. subhanallah ik... merinding bc komen ika..

    BalasHapus