Pages

03 Agustus 2010

Murid Spesial

Seperti sore yang sudah-sudah, saya lalui dengan mengajar privat. Namun kali ini saya mengajar murid spesial. Kenapa? Karena ia berkebutuhan khusus. Autis. Sebelumnya, ibunya sudah memberitahu saya bahwa ia autis. Bismillah. Saya coba. Seperti biasa, mata ajar favorit murid-murid privat itu cuma satu: matematika :D.

Awal bertemu, hmm.... saya tidak menduga bahwa ternyata ia benar-benar spesial. Ia sudah bisa berkomunikasi dengan lancar. Kelas 2 SMP. Sedari kecil, saya yakin ibunya sangat gigih berusaha agar ia tidak kehilangan komunikasi dengan lingkungan sekitar. Kesabaran mutlak diperlukan. Ia seperti anak lainnya yang adaaaaaa aja alasan biar gak belajar. Ya nanya inilah.. nanya itulah.. garuk-garuk badan. Kalau kata ibunya, ia bisa garuk-garuk badan dari pagi sampe sore kayak orang belum mandi 2 tahun :)). Padahal badannya gak gatel. Biar gurunya terkecoh, jelas sang ibu. hoooo....

Setelah lewat dari 1 jam, sang ibu menjelaskan pada saya perihal anaknya. Hm.. mendengar penjelasannya, saya merasa bersyukur bisa mengenal macam-macam orang..

Kemudian ibunya membawa saya ke kamarnya. Di sana sang ibu menunjukkan beberapa gambarnya yang subhanallah.. bagus bangeeet. Ternyata murid spesialku ini suka sekali menggambar, khususnya mobil. Keren banget gambarnya. Ibunya menunjukkan saya gambarnya yang mulai dari usia 3 tahun.. Ckckckc.. memang hebat.. dan isi lemari bukunya semua tentang mobil. Jangan bayangkan lemari kecil, tapi lemari yang kayak di perpus besar semuanya berisi buku-buku tebal tentang mobil.
Cerita si ibu terus bergulir, ia senang sekali ke toko buku, dan segera ke bagian mobil2.. Cita-citanya adalah designer mobil, namun ia lemah di pelajaran IPA. Atas alasan itulah mengapa saya diminta bantuannya.. Pffhh... Sebuah amanah yang cukup berat. Ganbatte!!
Man jadda wajada!!
Semoga diriku bisa membantumu :)

02 Agustus 2010

Encouragement by Rhenald Kasali

Ketika chat, saya mendapat kiriman file yang menginspirasi. Saya share di sini, semoga bermanfaat :)

Encouragement by Rhenald Kasali

Lima belas tahun lalu saya pernah mengajukan protes pada guru sebuah sekolah tempat anak saya belajar di Amerika Serikat.

Masalahnya, karangan berbahasa Inggris yang ditulis anak saya seadanya itu telah diberi nilai E (excellent) yang artinya sempurna, hebat, bagus sekali.

Padahal dia baru saja tiba di Amerika dan baru mulai belajar bahasa. Karangan yang dia tulis sehari sebelumnya itu pernah ditunjukkan kepada saya dan saya mencemaskan kemampuan verbalnya yang terbatas. Menurut saya tulisan itu buruk, logikanya sangat sederhana. Saya memintanya memperbaiki kembali, sampai dia menyerah.

Rupanya karangan itulah yang diserahkan anak saya kepada gurunya dan bukan diberi nilai buruk, malah dipuji. Ada apa?Apa tidak salah memberi nilai? Bukankah pendidikan memerlukan kesungguhan? Kalau begini saja sudah diberi nilai tinggi, saya khawatir anak saya cepat puas diri.

Sewaktu saya protes, ibu guru yang menerima saya hanya bertanya singkat.

“Maaf Bapak dari mana?”
“Dari Indonesia,” jawab saya.
Dia pun tersenyum.


Budaya Menghukum

Pertemuan itu merupakan sebuah titik balik yang penting bagi hidup saya. Itulah saat yang mengubah cara saya dalam mendidik dan membangun masyarakat.

“Saya mengerti”, jawab ibu guru yang wajahnya mulai berkerut, namun tetap simpatik itu.
“Beberapa kali saya bertemu ayah-ibu dari Indonesia yang anak-anaknya dididik di sini,” lanjutnya.
“Di negeri Anda, guru sulit memberi nilai. Filosofi kami mendidik di sini bukan untuk menghukum, melainkan untuk merangsang orang agar maju. Encouragement!”

Dia pun melanjutkan argumentasinya.

”Saya sudah 20 tahun mengajar. Setiap anak berbeda-beda. Namun anak sebesar itu, baru tiba dari negara yang bahasa ibunya bukan bahasa Inggris, saya dapat menjamin, ini adalah karya yang hebat”, ujarnya menunjuk karangan berbahasa Inggris yang dibuat anak saya.

Dari diskusi itu saya mendapat pelajaran berharga. Kita tidak dapat mengukur prestasi orang lain menurut ukuran kita. Saya teringat betapa mudahnya menyelesaikan study saya yang bergelimang nilai A, dari program master hingga doktor.

Sementara di Indonesia, saya harus menyelesaikan studi jungkir balik ditengarai ancaman drop out dan para penguji yang siap menerkam.
Saat ujian doktor saya pun dapat melewatinya dengan mudah. Pertanyaan mereka memang sangat serius dan membuat saya harus benar-benar siap. Namun suasana ujian dibuat sangat bersahabat.
Seorang penguji bertanya dan penguji yang lain tidak ikut menekan, melainkan ikut membantu memberikan jalan begitu mereka tahu jawabannya. Mereka menunjukkan grafik-grafik yang saya buat dan menerangkan seterang-terangnya sehingga kami makin mengerti. Ujian penuh puja-puji, menanyakan ihwal masa depan dan mendiskusikan kekurangan penuh keterbukaan.

Pada saat kembali ke Tanah Air, banyak hal sebaliknya sering saya saksikan. Para pengajar bukan saling menolong, malah ikut ‘menelan’ mahasiswanya yang duduk di bangku ujian. Ketika seseorang penguji atau promotor membela atau meluruskan pertanyaan, penguji marah-marah, tersinggung, dan menyebarkan berita tidak sedap seakan kebaikan itu ada udang di balik batunya.

Saya sempat mengalami frustrasi yang luar biasa menyaksikan bagaimana para dosen menguji, yang maaf, menurut hemat saya sangat tidak manusiawi. Mereka bukan melakukan encouragement, melainkan discouragement.

Hasilnya pun bisa diduga, kelulusan rendah dan yang diluluskan pun kualitasnya tidak hebat-hebat betul. Orang yang tertekan ternyata belakangan saya temukan juga menguji dengan cara menekan. Ada semacam balas dendam dan kecurigaan.

Saya ingat betul bagaimana guru-guru di Amerika memajukan anak didiknya. Saya berpikir pantaslah anak-anak di sana mampu menjadi penulis karya-karya ilmiah yang hebat, bahkan penerima Hadiah Nobel. Bukan karena mereka punya guru yang pintar secara akademis, melainkan karakternya sangat kuat: karakter yang membangun, bukan merusak.

Kembali ke pengalaman anak saya di atas, ibu guru mengingatkan saya.
“Janganlah kita mengukur kualitas anak-anak kita dengan kemampuan kita yang sudah jauh di depan,” ujarnya dengan penuh kesungguhan.

Saya juga teringat dengan rapor anak-anak di Amerika yang ditulis dalam bentuk verbal. Anak-anak Indonesia yang baru tiba umumnya mengalami kesulitan, namun rapornya tidak diberi nilai merah, melainkan diberi kalimat yang mendorongnya untuk bekerja lebih keras, seperti berikut.
“Sarah telah memulainya dengan berat, dia mencobanya dengan sungguh-sungguh. Namun Sarah telah menunjukkan kemajuan yang berarti.”

Malam itu saya mendatangi anak saya yang tengah tertidur dan mengecup keningnya. Saya ingin memeluknya di tengah-tengah rasa salah telah memberi penilaian yang tidak objektif. Dia pernah protes menerima nilai E yang berarti excellent (sempurna), tetapi saya mengatakan ‘gurunya salah’. Kini saya melihatnya dengan kacamata yang berbeda.

Melahirkan Kehebatan

Bisakah kita mencetak orang-orang hebat dengan cara menciptakan hambatan atau rasa takut? Bukan tidak mustahil kita adalah generasi yang dibentuk oleh sejuta ancaman: gesper, rotan pemukul, tangan bercincin batu akik, kapur, dan penghapus yang dilontarkan dengan keras oleh guru, sundutan rokok, dan seterusnya.

Kita dibesarkan dengan seribu satu kata-kata ancaman: Awas...; Kalau...; Nanti...; dan tentu saja tulisan berwarna merah menyala di atas kertas ujian dan rapor di sekolah.
Sekolah yang membuat kita tidak nyaman mungkin telah membuat kita menjadi lebih disiplin. Namun di pihak lain dia juga bisa mematikan inisiatif dan mengendurkan semangat.

Temuan- temuan baru dalam ilmu otak ternyata menunjukkan otak manusia tidak statis, melainkan dapat mengerucut (mengecil) atau sebaliknya, dapat tumbuh. Semua itu sangat tergantung dari ancaman atau dukungan (dorongan) yang didapat dari orang-orang di sekitarnya.

Dengan demikian kecerdasan manusia dapat tumbuh, sebaliknya dapat menurun. Seperti yang sering saya katakan, ada orang pintar dan ada orang yang kurang pintar atau bodoh. Tetapi ada juga orang yang tambah pintar dan ada orang yang tambah bodoh. Mari kita renungkan dan mulailah mendorong kemajuan, bukan menaburkan ancaman atau ketakutan. Bantulah orang lain untuk maju, bukan dengan menghina atau memberi ancaman yang menakut-nakuti.

Bisa diaplikasikan ke murid, ponakan, or anak nantinya.
*jadi inget dosen, guru tk, n rapot smp saya :p*

24 Juli 2010

Sungai di Belantara Jakarta

Judul apa, itu? Belantara? Jakarta? Sungai?
Ya. Sungai di belantara Jakarta. Setiap hari saya lalui sungai-sungai di belantara Jakarta. Sungai kecil, besar, sampai yang amat besar. Sungai yang tenang, sampai sungai yang berarus maha dahsyat. Ikan yang ada pun beraneka ragam. Ukuran kecil sampai besar. Ikan jinak sampe buas-sebuasnya.


Saya sering mengibaratkan jalan-jalan di Jakarta ini seperti sungai. Jalan raya dengan lalu lintas padat, mirip-mirip sungai penuh lumpur. Penuh sesak oleh makhluk di dalamnya yang merasa tidak nyaman dengan habitatnya. Jalan-jalan kecil dan gang layaknya anak-anak sungai kecil berhiaskan batu-batu sebagai rintangan (gang sempit maksudnya, hehe). Pun ada juga jalan raya besar dengan arus amat lancarrrr aka semua mobil ngebut! Kalau ini seperti sungai besar dengan arus yang deras.

Dan saya, mengibaratkan diri sebagai bayi ikan kecil yang tertatih-tatih. Kenapa? Karena di sepanjang arus tersebut, saya selalu berada di bahu jalan, sambil berharap bisa menyamakan kecepatan dengan ikan-ikan kecil dewasa lainnya. Di sungai-sungai ini saya -si bayi ikan kecil- terkadang merasa terancam :p dengan ikan-ikan besar di dahsyatnya arus sungai Jakarta.

Tidak selamanya sang bayi tertatih-tatih. Bayi itu pembelajar cepat! Bahkan di bawah tekanan ikan-ikan besar di arus yang sangat deras. Ya. Di bawah tekanan itulah ia belajar. Dari ikan-ikan besar dan kecil.

Cukup sudah pengandaiannya.

Sekarang ini sepeda motor sudah jadi bagian hidup sehari-hari. Beberapa alasan penggunaannya antara lain menghemat biaya transportasi (perorangan), memangkas waktu perjalanan ke tempat tujuan, dan tidak membutuhkan space besar dalam penyimpanan (gak seperti mobil yang butuh garasi, motor bisa diletakkan di kamar).

Sebenarnya, kalo ditilik dari sisi ekonomis perorangan, menggunakan sepeda motor jauh lebih hemat dari angkutan umum. Tapi kalo dilihat dari banyaknya orang yang menggunakan sepeda motor, dampaknya pasti sangat hebat, seperti berapa banyak bensin yang dihabiskan untuk masing-masing pengendara motor (n mobil pribadi)? Yaaa.. mau gimana lagi.. >> ini kata2 terakhir :p gak suka sih sebenernya, pasrah betul tanpa usaha. Terus berharap supaya transportasi publik lebih baik n bahan bakar alternatif non fosil segera ditemukan :D.

Postingan ini ingin sekali saya tuliskan. Bukan soal bahan bakar ato angkutan umum, tapi pengalaman naik motor di jalan raya. Heheh..

Pertama kali bawa motor, saya gak tau tuh letak tombol lampu sen di mana, tombol klakson di mana, trus tombol untuk nyalain lampu waktu malam juga gak tau ada di mana. Whueeeee....

Jadilah ketika pertama kali pulang malam, saya gak pake lampu sen dan lampu malam. Cuek aja.. Orang saya gak tau. Alhamdulillah gak kenapa-kenapa :p

Sewaktu ibu saya tau, dy langsung bilang "ya alloh si enny... untung gak napa-napa"*ada bagusnya juga ya*

Saya banyak belajar nyetir motor dari para pengendara motor lainnya. Kalo tangan harus siaga di rem, trus kalo lewat polisi tidur badan diangkat sedikit, trus belajar nyelip-nyelip di antara mobil, n sedikit ngebut juga ngeliatin bapak-bapak yang bawa motor.

Pernah suatu pagi, di jam-jam sibuk, saya dimarahi ibu-ibu yang bawa motor.
Si ibu teriak, "mbak, bawanya yang cepet, dunk."
Whuaaaaaa... ibu... saya ini baru bisa nyetir motor disuru ngebut. Alhasil, saya beranikan diri untuk lebih kencang. Thanks, bu. Kalo gak diteriakin gitu, mungkin saya gak akan berani :D

Oh ya, satu lagi. Saya pernah dipesan bapak, katanya gini, "Enny kalo naik motor jangan ngebut-ngebut, ya."
Saya merespon, "Emang batasan ngebut itu berapa km/jam, pa?"
"90 km/jam", jawabnya.
"Oalaaaaaaaahhhhhhhhhhhhhhhh... Kalo gitu sih eni gak akan pernah ngebut, pa.. Orang 60 km/jam aja udah kayak terbang. Hehe."

Pernah juga.. panik di jalan berasa dikejar-kejar singa. Hohoho.. Gara-gara nyetir di tengah jalan n di depan kopaja yang lagi ngebut. Ckckck.. Tobat, deh..

*gak penting amat, siy*

Note: Please bapak-bapak, kalo bawa motor ato mobil, ingat anak istri di rumah, yeeeee....

23 Juli 2010

Sahabat

kaulah yang menaruh bintang
dalam mata, hati, dan genggamanku

kau tak pernah meninggalkanku
mungkin sesaat ak tak melihatmu di bawah matahari,
tapi ketika sampai pada malam
kau selalu di sana
menjelma pelita
di lorong paling gelap dan berdebu

sahabat
kaulah bintang sejati
yang tertawa, menangis, berjalan
dan tak henti berkelip
dalam langit hidupku

Puisi Abdurahman Faiz (2006) dalam bukunya Nadya Kisah dari Negeri yang Menggigil

18 Juli 2010

Sudah siapkah dengan doa yang kita panjatkan?

Sesungguhnya Allah itu Maha Pemalu, dan Ia amat malu jika doa yang dipanjatkan hamba-Nya tidak Ia kabulkan.
O, segala puja puji memang hanya untuk Allah..
Ia selalu bersama prasangka hamba-Nya. Pernahkah menyadari sesuatu yang terbesit dalam benak, kemudian menjadi kenyataan? Sesuatu yang hanya menjadi lintasan pikiran, namun beberapa waktu kemudian lintasan pikiran itu menjadi nyata.

Bagaimana dengan doa-doa yang selama ini kita panjatkan dengan sungguh-sungguh..
Ingatkah dengan doa-doa yang kita panjatkan? Meminta diberi yang terbaik di dunia dan akhirat,
Jodoh yang soleh,
Pekerjaan yang penuh berkah,
kemudian,
Sudahkah kita mempersiapkan bila Allah mengabulkan permohonan-permohonan kita? Sudah siapkah kita diberi kehidupan dunia dan akhirat yang baik, namun kita senantiasa abai pada maksiat-maksiat kecil yang lama kelamaan bertumpuk dan menggunung?
Sudah siapkah ketika Ia memberi lelaki soleh yang senantiasa mencurahkan waktu dan pikirannya pada urusan orang banyak, namun pada akhirnya kita tidak rela berbagi waktu dan materi pada umat?
Sudah siapkah kita ketika Allah memberi pekerjaan dan rejeki yang cukup? Namun yang terdengar nyata hanya keluhan-keluhan panjang tanpa batas. Pantas saja Ia belum memberi apa yang selama ini kita pinta. Rupanya kita belum siap dengan apa yang senantiasa kita panjatkan..

Wallahu'alam

Note:
Kata ganti 'kita' dipakai untuk mewakilkan kata ganti 'saya' jika ada yg keberatan, tidak dimaksudkan apapun

*Curahan lintas pikiran dan kontemplasi

11 Juli 2010

Istikharah

O Allah ! I ask guidance from Your knowledge, and Power from Your Might and I ask for Your great blessings. You are capable and I am not. You know and I do not and You know the unseen.
O Allah! If You know that this thing is good for my din and my subsistence and for my Hereafter - (or say, If it is better for my present and later needs) - then ordain it for me and make it easy for me to obtain, and then bless me in it.
If You know that this thing is harmful to me in my din and subsistence and in the Hereafter--(or say, If it is worse for my present and later needs)--then keep it away from me, and keep me away from it.
And ordain for me whatever is good for me, and make me satisfied with it.
muttaqun.com

01 Juli 2010

My new lovely student

Liburan kali ini (Ha? Libur? Hehe..) saya mendapat murid baru. A boy, smart n very kind boy. Selama libur sekolah, sebelum masuk sd, ia belajar mengaji. Anak sekarang pintar-pintar dan menyenangkan. Saya mengajarkannya selayaknya bermain dengan keponakan.
'Mbak enny juga bisa bicara bahasa inggris dengan mas', kata neneknya (mas = panggilan ia di rumah).
'Ouh, so you're speaking english too?'
'Yes!', ia menjawab dengan riang.
Weleh-weleh, i have to improve my english soon :p.
Saya membuat kalimat dalam bahasa indonesia dengan tulisan-tulisan arab, kemudian saya meminta ia untuk membacanya. Lancar. Kemudian, saya bertanya padanya, kalau sekolah suka membawa apa (untuk ditulis menggunakan tulisan arab)
'Snack box!' katanya.
Saya mikir. Hmm.. Tulisan snack box pake huruf hijaiyah bagaimana, ya? Sin sukun, nun fathah, kaf sukun, ba fathah, huruf x? Hm.. Sulit kalo untuk anak2. Saya juga nggak yakin betul. Kemudian saya bilang, mas bawa apa selain snack box? Ia bertanya memangnya kenapa? Saya menjawab snack box sulit ditulis menggunakan tulisan arab, karena dalam tulisan arab tidak ada huruf 'e' atau 'x' dan tidak semua tulisan dalam bahasa inggris atau indonesia bisa ditulis dalam bahasa arab. Wah.. Semoga ia mengerti. Ternyata ia mengerti, dan memberikan kata 'makanan' sebagai pengganti kata snack box untuk ditulis. How smart you are.. :)
Can't wait to meet you again, lovely boy..

25 Juni 2010

Insulin? Bagaimana cara menggunakannya?

Alhamdulillah selama beberapa bulan kemarin saya mendapatkan pengalaman yang sangat berharga. Ilmu yang belum saya ketahui sewaktu jadi mahasiswa *karena gak proaktif nyari :p*
Bagaimana menggunakan insulin pertama kali? Bagaimana cara menyampaikannya pada diabetisi yang perlu menggunakan insulin? Apakah insulin menyebabkan ketergantungan seumur hidup? Ooohh..
Insulin seperti akhir dunia.. Setiap malam perut ditusuk, bahkan tiap sebelum makan perut juga disuntik, tiap pagi jari-jari tangan ditusuk untuk memeriksa kadar gula. Oh, dear.. Apakah seburuk itu? Tentu tidak buruk. Saya aja yang melebih-lebihkan. Bahkan tidak buruk sama sekali. Bukan akhir dunia.